Wednesday, April 30, 2014

Glory Glory Manchester United

Dini hari nanti, layar televisi kita kembali akan dihiasi dengan pertandingan lanjutan babak semifinal liga champions antara Bayern Munchen dan Real Madrid. Pertandingan liga Champions seringkali seolah olah menjadi tontonan wajib para penikmat sepakbola meski bukan team kesayangannya yang bertanding. Bukan tanpa alasan ketika seolah olah para penikmat sepakbola mewajibkan dirinya untuk menonton pertandingan Liga Champions karena setiap pertandingannya menyajikan 90 menit tontonan yang memanjakan mata oleh kepiawaian para maestro sepakbola dalam memainkan si kulit bundar, kepintaran pelatih dalam menerapkan formasi dan strategi untuk memenangkan pertempuran melawan team yang merupakan team terbaik di negaranya masing masing. Ada kalanya pertandingan liga champions menyuguhkan momen yang tidak akan kita lupakan selama bertahun tahun, seperti bagaimana Liverpool mengalahkan AC Milan melalui adu penalty setelah ketinggalan tiga gol pada babak pertama final Liga Champions musim 2004/2005. Dan tentu saja, momen liga champions yang tidak akan saya lupakan adalah saat Manchester United mengalahkan Bayern Munchen di final liga Champions musim 1998/1999 setelah sepanjang pertandingan tertinggal oleh goal tunggal Mario Basler dan kemudian membalikkan keadaan lewat dua goal teddy sheringham dan the baby face killer ole gunnar solskjaer pada masa injury time…Masih jelas di kepala saya bagaimana Lothar Matthaus menampilkan mimik muka tidak percaya di pinggir lapangan melihat teamnya kalah oleh dua goal di masa injury time, bagaimana para pemain Bayern munchen tidur-tiduran di lapangan malas bangun setelah goal Solskjaer…fenomenal!!

Saya tak ingat berapa kali Manchester United memperoleh kemenangan setelah ketinggalan goal terlebih dahulu dari lawannya. Tetapi saya ingat betul bahwa Manchester United adalah salah satu klub sepakbola yang terkenal dengan comebacknya, klub sepakbola yang terkenal dengan kemampuan membalikkan keadaan, bahkan fans, wartawan dan pengamat sepakbola sampai menjuluki waktu khusus di mana Manchester United biasa mencetak goal kemenangan di masa injury time yang sering disebut sebagai Fergie Time. Bagi saya, terlepas dari kontroversi apakah fergie time bener bener ada ataukah hanya kebetulan semata, kemampuan Manchester united untuk membalikkan keadaan bukanlah karena bantuan wasit, tetapi merupakan kombinasi antara mental pemenang yang ada pada diri masing masing pemainnya sehingga mereka tidak akan menyerah sebelum peluit akhir dibunyikan tanda pertandingan selesai dan kemampuan dari masing masing pemain itu sendiri. Kombinasi antara mental dan skill itulah yang seringkali mampu membantu Manchester United membalikkan keadaan dari kekalahan sepanjang pertandingan menjadi kemenangan saat pertandingan berakhir.. Ya mungkin ada juga sih karena faktor bantuan Howard Webb…wkwkwkwkwkwk

Ada satu ungkapan bule yang sering saya tanamkan pada diri saya sendiri..The best part of falling is getting back up again…bahwa witting tresno jalaran soko kulino…hahahaha kagak nyambung..
The best part of falling is getting back up again, bahwa hikmah terbesar saat kita jatuh adalah bagaimana usaha kita untuk bangkit kembali. We will find ourself on our way up…( bener gak sih inggrisnya J ). Seringkali, perjalanan kita saat mencoba bangkit dari keterpurukkan merupakan perjalanan untuk menemukan jatidiri kita sesungguhnya.

Jika anda pernah mengunjungi blog saya, mungkin anda pernah ingat tulisan saya mengenai Trading is a journey of self discovery, sebuah kutipan dari Alexander Elder, seseorang yang karya karyanya seringkali menjadi kitab suci bagi seorang trader. Trading memang tak begitu jauh berbeda dengan pertandingan sepakbola, seringkali seperti halnya pertandingan sepakbola, mental merupakan salah satu faktor penting yang menentukan hasil akhir dari pertandingan tersebut. Semakin kuat mental pemenang dalam diri pemain maka akan semakin susah pula team tersebut untuk dikalahkan. Semakin kuat mental seorang trader makan akan semakin susah pula trader tersebut dikalahkan oleh kerugian yang dideritanya.

Dua hari ini mungkin dua hari di mana banyak trader mengalami kegalauan karena marketnya kurang menarik, dan mungkin, di suatu tempat entah di mana, ada seorang trader yang sedang menangis dipojokkan melihat portfolionya tidak berkembang, melihat uang yang dia tanamkan tidak bertambah seperti rekan-rekannya tetapi justru semakin hari semakin menyedihkan jumlahnya. Dua hari ini market memang tidak terlalu menyeramkan meski cukup untuk memunculkan kegalauan, tetapi tetap saja, saya yakin ada banyak trader yang mengalami kerugian dua hari ini, dan mungkin saja, ada trader yang mengibarkan bendera putih sore tadi…

Bullshit lah kalo ada trader yang ngaku gak pernah rugi, gak pernah cut loss. Justru kebanyakan trader hebat adalah trader trader yang masa masa awalnya dipenuhi oleh kegagalan, oleh kerugian. Tapi layaknya Manchester United, mereka punya mental pemenang yang kuat dalam dirinya, tidak gampang menyerah meski kerugian dan kegagalan menyertai perjalanan tradingnya. Tentu saja mereka tidak Cuma bermodal mental pemenang, tetapi juga ditunjang oleh kemampuan yang selalu mereka tingkatkan selama perjalanan tradingnya, selalu mereka evaluasi dan perbaiki saat kerugian mendera. Bukankah kekalahan itu seringkali menjadi momen yang paling pas untuk evaluasi diri? Bukankah momen kekalahan adalah momen saat kesombongan diri kita lenyap sehingga kita lebih obyektif menilai diri sendiri??

Menyerah saat kita kalah hanya akan menjadikan kita seorang pecundang sejati. Menyerah saat kalah berarti memandang sebuah kekalahan adalah satu hal absolute yang tidak bisa kita rubah. Padahal kekalahan seringkali merupakan energi tak terhingga yang bisa kita gunakan untuk menggerakan segala daya upaya untuk menjadi seseorang yang lebih baik atau bahkan yang terbaik. Ketika kita kalah dan memutuskan untuk berhenti, maka kita sudah pasti kalah, tetapi ketika kita kalah dan memutuskan untuk bangkit, maka kita masih punya dua kemungkinan, kalah (lagi) atau menjadi pemenang.


Saya pernah kalah, saya pernah gagal, but here I am now..standing still at the capital market trying to be better trader. Glory Glory Manchester United!!! :-)

Monday, April 28, 2014

Thank You Gerrard

Tidak ada yang lebih membahagiakan malam ini selain melihat kekalahan Liverpool atas Chelsea di Anfield. Dan atas kebahagiaan tersebut saya ucapkan terima kasih dari lubuk hati yang paling dalam kepada sang kapten steven Gerrard yang telah membantu mewujudkan kekalahan Liverpool atas Chelsea di stadion kebanggaan para pendukung Liverpool, Anfield.

Tentu saja tulisan ini tidak akan berhenti hanya kepada ucapan terima kasih kepada steven Gerrard, tetapi sebelum waktu anda terbuang percuma dengan membaca apa yang akan saya tulis ini, ada baiknya saya beritahu bahwa apa yang saya tulis mungkin tidak sepadan dengan waktu yang anda luangkan untuk membaca tulisan ini hingga tanda baca terakhir. J

Kenapa saya menulis kembali setelah hampir satu tahun blog ini seolah olah mati suri ditinggal penghuninya??? Sepertinya rangkaian kebahagiaan yang saya alami selama satu minggu ini yang membuat tangan saya gatal untuk kembali bercengkerama dengan papan keyboard laptop saya untuk mencurahkan apa yang ada dalam pikiran saya setelah sekian lama saya absen dari blog ini karena terlalu asyik menjalani hidup di negeri tetangga dan menaklukkan tantangan pekerjaan baru sebagai expatriate (halah J). Meski saya masih aktif trading, tetapi saya merasa saya tidak dalam kapasitas untuk memberikan stockpick untuk saat ini, karena selama hampir satu tahun ini saya berganti style trading dari yang tadinya day trading bahkan sering scalping, sekarang lebih banyak swing trading sehingga tidak tiap hari memperhatikan market dan pergerakan running trade menit demi menit. So, bagi anda yang mengharapkan stockpick pada tulisan ini, mohon maaf harus mengecewakan anda karena anda tidak akan mendapatkannya. Well, setidaknya tidak dalam tulisan ini, tetapi mungkin pada tulisan tulisan mendatang ketika jari jemari ini sudah mulai akrab lagi dengan blog ini (apa seh J).

Kembali kepada kenapa saya akhirnya menulis kembali di blog ini.  Apa yang saya tulis ini bisa dibilang merupakan salah satu ungkapan kebahagiaan saya atas rangkaian peristiwa yang baru saja terjadi, yakni kekalahan Liverpool atas Chelsea malam ini serta pemecatan David Moyes sebagai pelatih dan penunjukkan Ryan Giggs sebagai pelatih sementara Manchester United, klub sepakbola favorit saya, minggu kemarin.

Sebagai mana kita tahu, musim ini, David Moyes ditunjuk sebagai pelatih Manchester United untuk menggantikan singgasana kepemimpinan the great Sir Alex Ferguson. Penunjukkan David Moyes itu sendiri pada awalnya menimbulkan tanda tanya besar di kalangan penggemar Manchester United maupun pemerhati sepakbola pada umumnya. Atas dasar apa David Moyes ditunjuk sebagai pengganti Sir Alex? Prestasi apa yang pernah diraih oleh David Moyes sehingga ia pantas duduk di kursi panas pelatih Manchester United menggantikan Sir Alex dengan segudang raihan piala baik liga Inggris, FA maupun liga Champions. Banyak teori dan spekulasi yang mencoba mengungkap alasan dibalik penunjukkan David Moyes sebagai pelatih Manchester United, ada yang berpendapat karena David Moyes mempunyai visi yang sama dengan Sir Alex terhadap pengoptimalan skuad muda Manchester United untuk tujuan jangka panjang, ada yang berpendapat bahwa sir Alex sendirilah yang merekomendasikan David Moyes sebagai suksesor dirinya. Dan banyak lagi orang orang sok tahu yang mencoba memberikan pendapatnya mengenai penunjukkan David Moyes, meskipun kita tahu diantara sebegitu banyak pendapat tidak satupun yang benar benar bisa kita yakini sebagai alasan penunjukkan David Moyes. Saya pribadi, lebih percaya bahwa penunjukkan David Moyes sebagai pelatih Manchester United merupakan konspirasi tingkat tinggi Bandar judi sepakbola yang didukung secara absolute oleh pelatih pelatih liga Inggris untuk menggembosi Manchester United dari dalam. Hal ini dilakukan sebab mereka mungkin sudah mulai merasa jenuh atas dominasi Manchester United di Liga Inggris yang membuat persaingan di Liga Inggris selama ini hanyalah persaingan untuk memperebutkan posisi dua dan ketiga karena posisi pertama, posisi juara sudah hampir pasti menjadi milik Manchester United J. Jika, atas sepeninggal sir Alex Manchester United dilatih oleh Pep Guardiola, Jose Mourinho atau pelatih lain yang sudah jelas terlihat kemampuan dan raihan prestasinya, maka apa bedanya Manchester United era sir Alex dengan Manchester United era pengganti Sir Alex? Tetap saja Manchester United akan menjadi klub yang mendominasi liga Inggris dengan klub yang lain bersaing ketat hanya untuk menjadi nomor dua. Oleh karena itu, muncullah konspirasi agar Manchester United menjadi tim medioker, menjadi team yang tidak punya taji, team yang tidak disegani, team yang bisa dikalahkan oleh juru kunci sekalipun, team yang meski sudah dibantu oleh wasit tetapi masih kalah juga. Dan David Moyes merupakan jawaban yang paling tepat, karena David Moyes merupakan salah satu pelatih di liga Inggris yang miskin prestasi, lagipula David Moyes membawa misi pribadi yang masih dia pegang teguh, yakni membawa Everton menjadi team yang lebih baik dari Manchester United, yang dia buktikan secara sempurna dengan kekalahan Manchester United di kandang maupun saat tandang ke Everton, sesuatu yang sudah puluhan tahun tak pernah terjadi.
Dan minggu kemaren Alhamdulillah David Moyes sudah dipecat, dan digantikan sementara oleh the living legend Ryan Giggs untuk menangani empat pertandingan terakhir yang salah satunya sudah dijalani dengan sangat baik dengan mengalahkan Norwich empat gol tanpa balas. Namun hingga saat ini, kejelasan siapakah pelatih yang akan menangani Manchester United pada musim mendatang masih menjadi tanda tanya besar meski beberapa sudah memberitakan bahwa Luis Van Gaal kemungkinan akan menangani Manchester United musim mendatang. Saya pribadi senang melihat Ryan Giggs dan teman temannya dari Class of 92 phill Neville, Nicky Butt and sang Ginger Prince Paul Scholes di susunan kepelatihan Manchester United di empat pertandingan sisa ini.

Believe it or not, kita sebagai trader maupun investor sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pekerjaan seorang pelatih sepakbola. Pasar saham adalah lapangan sepakbola kita dengan saham saham yang beredar adalah para pemain sepakbola, dan portfolio kita adalah klub sepakbola yang kita latih. Agak maksa? Mungkin sih..tapi biarin aja lah..haha.

Di dunia sepakbola, ada yang namanya scouting, sebuah pekerjaan untuk mencari bibit bibit terbaik pemain sepakbola dari penjuru dunia. Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi merupakan contoh pemain pemain hasil scouting yang sudah jadi. Umumnya scouting dilakukan untuk mencari para pemain sepakbola muda dengan kemampuan sepakbola yang luar biasa atau mempunyai potensi untuk menjadi pemain hebat di masa mendatang. Ketika sudah menemukan pemain muda incaran maka klub akan mengontrak pemain tersebut umumnya dengan harga yang relatif murah untuk kemudian dilatih secara serius di fasilitas klub, dipoles kemampuannya, ditingkatkan skillnya sehingga mereka benar benar menjadi pemain luar biasa yang memberikan kontribusi luar biasa kepada klubnya. Ujung ujungnya nilai mereka akan naik berkali kali lipat dari harga kontrak awal mereka sehingga suatu saat jika klub akan menjual mereka, klub akan diuntungkan dengan keuntungan financial yang fantastis. Siapa yang pernah denger nama Cristiano Ronaldo semasa dia bermain di Portugal sebelum dia membela Manchester United. Dulu siapa yang mengira pemain sekecil Lionel Messi dengan penyakit genetis bawaan kini menjelma menjadi pemain yang telah beberapa kali menyabet gelar pemain terbaik dunia dan telah menyumbangkan banyak piala buat Barcelona. Inilah salah satu hasil scouting, hasil hunting, hasil seleksi pemain pemain muda yang dulu mungkin tidak dilirik oleh pelatih klub manapun. Satu hal yang pasti, bahwa klub yang berani mengontrak pemain hasil scouting merupakan klub yang berani melakukan investasi dan sadar bahwa mereka tidak akan mendapatkan hasil secara instan dari investasi mereka terhadap pemain muda hasil scoutingnya. Dan Manchester United adalah salah satu contoh yang sangat nyata dengan keberhasilan para pemain binaan dari akademi mereka yang terkenal dengan sebutan Class of 92.

Bukankah pemilihan saham untuk investasi juga mirip dengan kegiatan scouting dengan detail yang sedikit berbeda. Ketika kita akan memutuskan untuk membeli saham invest, bukankah kita melakukan scouting juga? Memilah milah di antara 400 lebih saham yang ada di bursa untuk kita pilih mana yang terbaik menurut kita, mana yang sesuai dengan profil investasi kita, mana yang menurut kita memiliki potensi untuk memberikan keuntungan di masa mendatang?

Tentu saja untuk membentuk sebuah team sepakbola kita akan memilih pemain pemain terbaik di masing masing posisi yang sesuai dengan strategi permainan yang akan kita terapkan. Sosok seperti The great big dane Peter Smeichel, Paul Scholes, Eric Cantona maupun Ryan Giggs merupakan pemain pemain terbaik di masanya, tentu saja seiring dengan berjalannya waktu, seiring dengan bertambahnya usia, evaluasi performansi mereka, pemain pemain tersebut juga harus kita ganti dengan pemain lain yang juga terbaik untuk masa selanjutnya seperti Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney hingga Januzaz maupun Cleverley. Portfolio saham juga gak jauh beda dengan ini, untuk menciptakan portfolio terbaik yang performance nya selalu bisa mengalahkan kinerja IHSG, inflasi maupun suku bunga deposito atau sarana investasi lainnya, kita harus memilih saham saham terbaik yang akan mengisi komposisi portfolio kita. Saham saham dengan performansi bagus yang satu sama lain mendukung performansi portfolio kita. Seiring dengan berjalannya waktu, kita juga harus melakukan rekomposisi portfolio kita, melakukan rotasi sector saham yang kita pegang, melakukan balancing sesuai dengan kondisi saat itu. Untuk day trading mungkin hal ini tidak terlalu penting, tetapi untuk investasi maupun swing trading, pemilihan sector yang tepat sesuai masanya bisa jadi merupakan salah satu kunci penting yang menentukan performansi portfolio kita dan pertumbuhan modal yang kita tanamkan.

Sepakbola kini adalah sebuah industry yang sangat besar dengan perputaran uang yang sangat besar pula. Banyak uang bertaburan dari hadiah pertandingan, tiket penonton, hingga sponsorship yang terpampang pada tiap sudut stadion, seragam latihan maupun seragam utama team.  Oleh karena itu, tidak salah ketika pelatih berpikir bahwa tujuan utama pertandingan sepakbola adalah kemenangan, karena semakin banyak kemenangan berarti semakin banyak uang akan didapatkan. Tak peduli taktik dan strategi pertandingan yang digunakan, yang penting saat peluit panjang dibunyikan, kemenangan ada ditangan teamnya. Kemenanganlah yang akan mendatangkan uang, taktik maupun strategi hanyalah sarana, metode yang akan mendatangkan kemenangan tersebut. Taktik ataupun strategi antara yang satu dengan lain tentu saja berbeda, dan tidak ada salah atau benar selama tujuan akhir dari pertandingan sepakbola itu didapatkan, yakni kemenangan. Barcelona bisa saja bangga dengan metode tiki taka nya, Italia bangga dengan taktik catenacio, Belanda dengan total football hingga inggris dengan kick and rush nya. Tapi semua taktik keren tersebut tidak akan berguna kalo tujuan utamanya gak dicapai, kalo kemenangan tidak diraih.

Lihatlah taktik Jose Mourinho malam ini saat mengalahkan Chelsea, saya yakin banyak para pengamat sepakbola yang mengkritik mourinho karena taktik bertahannya malam ini. Banyak yang mencemooh mourinho melihat ball possession Chelsea yang Cuma 27%, jauh dibawah Liverpool yang sampai 73%. Apakah Mourinho peduli dengan semua kritikan itu? Saya haqul yakin, Mourinho tidak peduli sama sekali, karena dia tahu bahwa tujuan utama dia adalah memenangkan pertandingan melawan Liverpool, bukan memenangkan hati para pengamat sepakbola. Dan bukankah sudah terbukti dengan penguasaan bola yang Cuma 27% Chelsea bisa mengalahkan Liverpool di Anfield, stadium kebanggaan pendukung Liverpool?.
Teknik trading, teknik pemilihan saham bukankah tidak jauh berbeda dengan taktik sepakbola? Tak peduli teknik trading yang kita gunakan, metode pemilihan saham yang kita pakai, selama kita yakin bahwa teknik tersebut akan mendatangkan keuntungan bagi kita, kenapa harus peduli terhadap pandangan orang lain atas teknik trading yang kita pakai??.  Toh benar atau salah kita sendiri yang menanggung akibatnya, bukan orang lain. Cuan atau rugi duit kita sendiri yang dipertaruhkan, bukan duit orang lain. Barcelona bisa saja sukses dengan strategi tiki taka nya, tapi apakah Manchester united, Chelsea maupun Liverpool bisa sukses dengan strategi tiki taka juga? Seorang trader mungkin sukses dengan satu teknik trading tapi itu bukan jaminan bahwa trader lain akan sukses dengan teknik trading yang sama. Masing masing trader punya preferensi sendiri yang sudah ia ukur berdasar pengalaman dan kemampuannya. Masing masing pelatih sepakbola juga seperti itu..

Sekali lagi, bagi saya, tujuan akhir dari sebuah pertandingan sepakbola adalah kemenangan, begitu juga dengan tujuan akhir kita trading adalah cuan. Strategi apa yang dijalankan untuk memperoleh kemenangan, menciptakan lebih banyak goal ke gawang musuh hanyalah sebuah metode bukan tujuan akhir. Apakah metode itu membosankan, gak enak dilihat itu bukan urusan, yang penting menang.

Orang bebas aja bilang teknik trading yang kita pake salah, gak bener, gak ilmiah gak sesuai teori yang banyak dibahas di buku buku yang jadi pedoman para trader. Tetapi selama teknik trading yang kita pakai itu mampu mendatangkan cuan, gak usah pedulikan omongan orang. YPC, yang penting cuan, terserah apa tekniknya, apa metodenya.


Saya pun begitu, tak peduli omongan orang atas Manchester United musim ini, Yang penting bukan Liverpool juaranya #kabooooooorrrrr J

Wednesday, June 12, 2013

ALDO


ALDO accumulative buy area 650 - 620, extend to 600 if necessary.
Cut loss if close below 600..
Target price short term if break 660-680 area adalah harga tertinggi sebelumnya di 740, dan target jika breakout 740 adalah 810 dan 900.
Time Frame 3 - 6 bulan, bukan buat trading..

Disclaimer ON

Friday, June 7, 2013

Fast Furious 6


Saya yakin, banyak dari kita tahu mengenai film terbaru dari franchise Fast Furious yakni Fast Furious 6, dan saya yakin sebagian besar yang baca tulisan ini sudah menonton film tersebut. Fast Furious 6 atau dikenal juga dengan Furious 6 merupakan film terbaru dari kelanjutan petualangan Dominic Toretto dan Brian O’Conner yang dimulai 12 tahun yang lalu dalam film berjudul Fast and Furious, dan jika melihat ending dari Furious 6, maka besar kemungkinan bakal ada Fast Furious 7 dengan musuh utama adalah Ian Shaw, saudara dari Owen Shaw yang terbunuh di Furious 6 dan akan diperankan oleh Jason Statham, actor Inggris yang selama ini sosoknya melekat pada film The Transporter. Fast Furious 6 itu sendiri sayangnya hanya mendapatkan rating 7.7 dari situs IMDB, dan rating di rottentomatoes malah lebih rendah dari itu. Menurut saya, wajar sih ratingnya Cuma segitu, karena memang jika dibandingkan dengan seri sebelumnya di Fast Five tahun 2011 yang mengambil lokasi Brazil sebagai ajang kebut-kebutan maka Fast Furious 6 ini memang dirasa kurang greget baik dari aksi kejar-kejarannya maupun alur ceritanya. Meski begitu, sampai saat ini film Fast Furious 6 masih menduduki peringkat pertama Box Office Amerika dan sejauh ini sudah meraup 35 Juta dollar lebih. Di Indonesia sendiri, mungkin salah satu alasan yang menjadikan film Fast Furious 6 ini banyak ditonton oleh penggemar film di Indonesia adalah karena ada actor Indonesia yang ikut berperan di film Fast Furious 6 ini. Joe Taslim, actor Indonesia kelahiran Palembang, 23 Juni 1981 yang dulu dikenal sebagai bintang iklan Vitacharm (http://www.youtube.com/watch?v=SuYaeuZBi_g) dan juga mantan atlit judo nasional serta sangat populer setelah membintangi film The Raid bersama Iko Uwais, berperan sebagai Jah, salah satu pembunuh bayaran anggota team Owen Shaw. Peran Joe Taslim sebagai Jah ini juga tidak bisa dibilang ecek-ecek dan cukup membanggakan bagi insan film Indonesia, setidaknya karakter Jah ini bertahan sampai akhir film dan mati belakangan dibanding anggota team owen Shaw lainnya, terlebih Joe Taslim juga diberikan kesempatan untuk berbicara dalam satu kalimat bahasa Indonesia saat adegan kejar-kejaran di terowongan bawah tanah dengan ucapan “Vegh, hantam mereka!!”..

Lalu, kenapa kita membahas film Fast Furious 6 ini?? Dari keseluruhan film tersebut, ada satu hal yang menurut saya cukup menarik yakni dialog antara Owen Shaw dengan Dominic Toretto sesaat setelah Dominic Toretto menjelaskan luka-luka yang ada ditubuh Letty . Owen shaw berbicara mengenai “code” yang dia miliki, bahwa code yang dia anut adalah “precision” bahwa dia beranggapan anggota team adalah adalah layaknya moving part yang tidak segan dan tidak takut dia korbankan dan dia ganti dengan anggota team lain agar tujuannya tercapai, agar pekerjaan yang sudah direncanakan bisa diselesaikan dengan baik. Kenapa hal itu bagi saya cukup menarik? Karena sebenarnya, dalam trading, dalam berinvestasi di bursa saham kita juga melakukan hal yang sama. Salah satu tujuan dari kita berinvestasi di pasar modal tentu saja untuk melipatgandakan asset yang kita punya, untuk terus meningkatkan kekayaan kita, dan hidup nyaman pada akhirnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, kita membentuk sebuah team yang kita sebut dengan portfolio. Team yang berisi saham-saham terbaik hasil seleksi dan penilaian yang kita lakukan terhadap seluruh saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Proses seleksi dan pemilihan anggota team yang akan mengisi portfolio kita tentu saja membutuhkan perhitungan yang matang agar setiap anggota team yang terpilih merupakan saham terbaik di sektornya, agar kontribusi mereka terhadap portfolio secara keseluruhan cukup signifikan dan agar tujuan yang sudah kita tetapkan dapat tercapai. Lalu berapa banyak jumlah anggota team agar team tersebut cukup efisien dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan? Banyak teori yang mampu menjawab pertanyaan ini, Modern Portfolio theory nya Markowitz maupun Sharpe saya yakin mampu menjelaskan bagaimana membentuk portfolio yang optimal, tapi tentu saja hal tersebut tidak akan kita bahas dalam tulisan ini, biarlah orang lain yang lebih ahli yang mengupas secara tuntas mengenai cara Markowitz maupun sharpe. Jika saya yang ditanya mengenai bagaimana membentuk portfolio yang efektif tentu saja jawaban saya akan sangat simple, berapa modal yang anda tanamkan itulah yang akan menjadi dasar bagaimana membentuk portfolio yang efektif. Tidak ada aturan baku mengenai berapa jumlah saham yang benar dalam membentuk portfolio, apakah 3, 5 atau bahkan lebih dari 20 saham. Bagi saya, sedikit banyak, jumlah itu akan dipengaruhi oleh besaran modal yang kita tanamkan di pasar modal. Semakin kecil modal, maka jumlah saham dalam portfolio juga sebaiknya semakin kecil, semakin besar modal maka jumlah sahamnya akan berbeda tergantung dengan pilihan sahamnya. Sebagai contoh, modal 10 juta tidak bijaksana jika pilihannya banyak saham, sedangkan modal di atas 1 milyar tentu saja tidak bijaksana jika pilihannya Cuma satu saham saja meski dalam beberapa kasus kadang kita perlu full power pada satu saham.

Saya pribadi bukan orang yang terlalu mengagungkan diversifikasi meski saya di satu sisi juga percaya terhadap kemampuan diversifikasi dalam meminimalisir resiko yang kita hadapi. Bagi saya, perlu atau tidaknya diversifikasi seringkali bersifat situasional, ada kalanya kita perlu diversifikasi, tetapi ada kalanya pula kita perlu fokus pada satu saham saja. Keduanya mengandung dua resiko yang berbeda dengan tawaran keuntungan yang berbeda pula. Terlalu terdiversifikasi membuat keuntungan bisa jadi kurang maksimal meski secara teori resikonya menjadi semakin kecil, di sisi lain fokus pada satu atau beberapa saham membuat keuntungan menjadi sangat maksimal dengan resiko yang juga semakin meningkat. Tentu saja untuk fokus pada satu atau beberapa saham saja ada beberapa prasyarat yang harus terpenuhi terlebih dahulu, tingkat keahlian trading kita, tingkat pemahaman kita terhadap pasar dan tingkat keyakinan kita pada saham tersebut merupakan beberapa prasyarat yang harus terpenuhi sebelum kita memutuskan memfokuskan dana kita pada satu atau beberapa saham saja. Semuanya kembali kepada pilihan masing-masing, kembali kepada tingkat kenyamanan kita, 

Balik kepada pernyataan Owen Shaw tadi bahwa anggota team adalah layaknya moving parts yang seharusnya bisa kita korbankan dan kita ganti dengan yang lain demi tercapainya tujuan kita, maka seperti itulah seharusnya kita memperlakukan team yang mengisi portfolio kita. Meski saham-saham yang mengisi portfolio kita merupakan saham-saham pilihan yang sudah kita seleksi dengan teliti sebelumnya, ada kalanya mereka kurang perform dibandingkan dengan anggota team lainnya, ada kalanya kinerja mereka justru lebih jelek dari kinerja Indeks harga saham gabungan. Jika terjadi seperti itu, kita harus tegas dan legowo untuk mengorbankan anggota team tersebut, cut loss dan lalu menggantinya dengan kandidat saham pengganti yang lebih baik. Anggota team portfolio tidak seharusnya memiliki “code” family seperti yang dianut oleh Toretto yang ketika sudah kita pilih maka akan menjadi anggota team selamanya, hidup atau mati. Ketika ada anggota portfolio kita yang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, sudah minus cukup dalam di portfolio, maka sudah selayaknya anggota tersebut kita keluarkan dari team portfolio agar keberadaannya tidak menyusahkan dan menghambat kinerja portfolio kita.

Sekarang, evaluasi portfolio anda, apakah team Portfolio anda sudah “Fast”, sudah cukup cepat dalam menghasilkan profit dan membuat anda semakin cepat melipatgandakan asset anda? Ataukah portfolio anda sekarang selalu membuat anda “Furious”, membuat anda marah karena performansinya melempem, jalan dengan gigi satu atau bahkan gigi mundur :-)..

Fast or Furious ???


Thursday, May 30, 2013

ISSP bagian dua

Berhubung marketnya gak terlalu menarik dan juga target pembelian hari ini sudah selesai, mari kita lanjutkan diskusi mengenai ISSP seperti dalam tulisan kemarin --> ISSP

Oke, jadi sekarang kita sudah tahu, setidaknya ada dua scenario yang bisa dilakukan oleh pihak yang punya kepentingan terhadap saham ISSP, langsung narik sahamnya atau jebol support dulu lalu akumulasi di bawah. Scenario mana yang akan dipilih tidak perlu kita pusing-pusing pikirin, yang perlu kita pikirkan adalah langkah antisipasinya terhadap dua scenario tersebut, apa yang akan kita lakukan jika ternyata scenario kedua dijalankan, ISSP dijebol supportnya, apa yang akan kita lakukan jika ternyata support 235 tetap bertahan dan harga merangkak naik.

Tetapi perlu juga diingat, bahwa anda sama sekali tidak perlu melakukan pembelian terhadap saham ISSP ini, gak ada keharusan untuk memilih saham ini sebagai pilihan trading maupun investasi. Terlebih jika anda mempunyai kandidat pilihan saham yang jauh lebih menarik, jauh lebih nyaman bagi anda dan jauh lebih menguntungkan potensi keuntungannya.

Oke balik lagi ke langkah antisipasi yang tadi, jika support 235 ISSP jebol, maka target penurunan menurut saya adalah ke angka 210 dan ekstrimnya malah bisa di bawah angka 200, tapi apa iya emitennya bakal rela harga sahamnya turun sejauh itu..hehe..jadi seandainya ada yang belum punya ISSP dan tertarik untuk beli ISSP maka level pembelian adalah mulai area 230 sampai 210, beli bertahap dengan jumlah lot yang semakin membesar di bawah, misalkan berencana beli ISSP sejumlah 1000 lot, maka modal pembeliannya bisa saja beli 230 100 lot, beli 220 300 lot beli 210 600 lot atau sesuaikan saja dengan strategi anda, itu hanya sekedar contoh saja..Sekali lagi, tidak ada kewajiban untuk membeli saham ISSP, toh secara teknikal jelek karena breakdown support. Yang perlu diperhatikan juga adalah bahwa akan lebih baik jika terdapat selling climax dalam perjalanan ISSP turun ini, ada satu hari dimana volume sangat besar tetapi volume penjualan berhasil diserap oleh buyer, volume besar, merah tetapi harga tidak turun lebih dalem. Umumnya momen ini bisa dijadikan sinyal awal untuk siap-siap melakukan pembelian meski untuk lebih amannya masih memerlukan konfirmasi candle hari-hari berikutnya.

Antisipasi kedua, jika tertarik membeli ISSP tetapi tidak mau membeli saat breakdown support?? Ya tunggu saja ISSP menembus resistance 260-265, sementara dia belum tembus resistance ya lupakan saja ISSP ini..

Saat tulisan ini ditulis, posisi bid offer ISSP adalah sebagai berikut :


posisi Offernya penuh dengan orang yang mau jualan dengan posisi bid yang relatif kosong karena belum banyak yang tertarik saham ISSP karena melihat peluang yang lebih baik di saham lain. Bisa jadi, jika seandainya ada guyuran kiri, maka lot lot yang termpampang di offer tersebut akan ikut buang kiri, bisa jadi pula lot lot yang terpampang di offer itu adalah lot lot yang sengaja dipasang untuk menjatuhkan mental trader/investor karena akan berpikiran ISSP akan susah naik saat jebol support nanti..we dont know for sure, hanya Tuhan dan Bandarnya yang tahu ;-)

Semoga bermanfaat :-)

Note: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, sekedar berandai-andai. Bukan ajakan untuk melakukan penjualan ataupun pembelian terhadap saham ISSP..Disclaimer ON.