Showing posts with label Riset Sekuritas. Show all posts
Showing posts with label Riset Sekuritas. Show all posts

Thursday, January 31, 2013

Soal IPO PT. Steel Pipe Industry Of Indonesia (SPINDO)

Bulan Februari nanti bakal ada IPO perusahaan yang bernama PT. Steel Pipe Industry of Indonesia atau yang dikenal dengan nama SPINDO. Apa itu SPINDO terangkum dalam profile berikut :


Selengkapnya mengenai profile SPINDO ini mungkin bisa dibaca lebih lanjut di website perusahaan http://www.spindo.com/

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk melepas 2,9 miliar lembar saham atau setara 40,36% dari modal yang disetorkan setelah IPO.Adapun harga yang ditetapkan kisaran Rp 260-390 per saham dari hasil penawaran awal (bookbuilding) dengan nilai nominal Rp 100 setiap saham. Dana yang terkumpul dari IPO akan digunakan sebagai belanja modal sebesar 43%, 12% untuk pelunasan hutang, dan sisanya 45% untuk peningkatan modal kerja. Saat ini sekitar 93,79 % saham perseroan dimiliki oleh PT Cakra Bhakti Para Putra.

Gimana prospeknya ?? Jujur gw pribadi agak gelap. Kalo melihat perusahaan si lumayan OK, cuma yang ditakutkan adalah dengan nilai IPO sebesar 1,3 - 1,7 Trilyun dan di handle sendirian oleh AAA Securities ( meski dibantu juga oleh Nomura ) agak bikin deg-degan euy...Beberapa informasi yang saya dapat menyebutkan bahwa ada perusahaan Jepang yang tertarik untuk mengambil porsi yang cukup besar dari IPO SPINDO ini melalui Nomura, cuma belum konfirm juga, mungkin menunggu mereka roadshow minggu ini.

Well, untuk lebih mantap dalam mengambil keputusan apakah ikutan IPO SPINDO atau tidak, link berikut mungkin akan membantu


Good Luck Mas bro sekalian

Friday, February 10, 2012

ITMG Riset Etrading

Saya kutipkan riset ITMG dari etrading tanggal 10 Februari 2012..
saya sertakan juga chart sebagai bahan pertimbangan..



ITMG – Company Visit Note
Company at a glance
PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) didirikan pada tahun 1987 dan kemudian diakusisi oleh Grup Banpu Thailand pada tahun 2001. Selanjutnya, di akhir tahun 2007 ITMG mencatatkan sahamnya di BEI. Saat ini, lingkup usaha perseroan mencakup operasi penambangan batubara, pengolahan, dan logistik.

Operational Highlight
Melalui lima anak perusahaannya, ITMG mengoperasikan enam konsensi tambang yang terletak di pulau Kalimantan meliputi Kalimantan Timur, Tengah, dan Selatan dengan rata-rata kandungan kalori batubara sebesar 6.200-6300 kcal/kg. Total volume produksi batubara ITMG untuk FY2011 diproyeksikan sebesar 25 juta ton meningkat 13,12% dibandingkan dengan volume produksi FY2010 yang sebesar 22,1 juta ton.

Healthy Balance Sheet
ITMG saat ini memiliki posisi keuangan yang kuat dengan kas sebesar US$ 579 juta dollar pada 9M2011 dan  tidak memiliki posisi utang. Kami melihat hal ini sebagai hal yang positif bagi perseroan, karena akan memberikan keleluasaan bagi perseroan untuk melakukan rencana ekspansinya dan pembiayaan capex.

High Dividend Payout Ratio
Besarnya posisi kas juga memungkinkan perseroan untuk memberikan rasio Dividend Payout Ratio (DPR) yang tinggi dimana pada bulan Oktober 2011 lalu ITMG membagikan dividen interim dengan rasio DPR sebesar 75% untuk tahun buku semester I-2011. Kami meyakini tren ini masih akan berlanjut pada tahun ini.

Our View
Saat ini, perhitungan nilai wajar saham perseroan masih dalam perhitungan kami. Namun, kami melihat harga saham perseroan yang diperdagangkan saat ini cukup atraktif mempertimbangkan saat ini ITMG diperdagangkan PER yang lebih rendah dibandingkan industrinya yaitu 10,97x berbanding 16,77x (lihat tabel 1). Selain itu, ekspektasi rasio DPR yang tinggi juga dapat menjadi katalis positif bagi pergerakan ITMG.

sumber : Riset Etrading Securities 10 februari 2012
Bukan rekomendasi beli atau jual, sekedar informasi saja.

TBIG riset mandiri sekuritas


Saya kutipkan riset TBIG dari mandiri sekuritas..
by chart sudah breakout..candle rawan profit taking..
gutlak


Win-win deal with Indosat, strong 4Q11

On its press release yesterday, Tower Bersama (TBIG) announced: (1) That as of end-2011, it has 4,868 sites and 7,002 tenancies, or an increase of 57% and 48% from 1 January 2011 figures of 3,104 sites and 4,729 tenancies. In Q4 2011 alone, it added 360 sites and 593 tenancies organically. (2) It has finalized the deal to purchase 2,500 tower assets and lease certain site space to Indosat, for upfront consideration of US$406mn and a maximum potential earn-out amount of US$113mn. The upfront consideration will comprise of cash and newly issued TBIG shares. The share consideration will be based on trailing market prices over a period prior to closing, and will represent approximately 5% of TBIG’s enlarged share capital. Under the terms of the agreement, Indosat will lease all 2,500 towers, as an anchor tenant, from TBIG for a minimum period of 10 years. Taken on a proforma basis, this latest acquisition of 2,500 tower assets (which includes Indosat and third party tenancies) takes TBIG to 7,368 sites and more than 10,000 tenancies, immediately resulting in higher revenue and EBITDA. The completion of the transaction is subject to various approvals including those of TBIG’s shareholders and Indosat’s bondholders and lenders. The transaction is expected to complete during Q2 2012.

The year-end 2011 operating data shows that 4Q11 was a big quarter for TBIG. We had forecasted a year-end tenancy of 6,507, versus actual achievement of 7,002. All of the 593 new tenancies in 4Q11 was organic, implying a monthly rate of addition of around 200 tenants. In the first nine months, the organic addition was running at only around 112 per month. For the whole of year 2012, we are currently forecasting a monthly organic addition of 180, which is looking very conservative now considering the 4Q11 actual rate and the 2,500 new site locations from Indosat

Even better, a big percentage (60%) of the 593 new tenancies in 4Q11 was collocation tenants who do not require new tower build-out. The number of sites have only increased by 360 in 4Q11, which is in-line with our forecast (year-end 2011 sites at 4,868 versus MS forecast of 4,907.

 sumber: Mandiri sekuritas

Verdi Budiman
verdi.budiman @mandirisek.co.id

Thursday, February 9, 2012

Banking Sector - Riset CLSA 9 Februari 2012

Saya kutip riset sektor perbankan dari CLSA Asia Pacific Market tanggal 9 Februari 2012..
Kalo mau mudah dan ga mau pusing, lihat bagian paling bawah saja, target price, upside dan apa rekomendasi nya.
kalo mau lebih advance ya perhatikan PER, PBV, EPS growth dan indikator lainnya.

Disclaimer On
Bukan rekomendasi beli
Sekedar share riset BWPT dari ciptadana, harga sudah naik cukup banyak, hati hati biasanya good news is a bad news, ada yang mau jualan..
saya sertakan chart BWPT sebagai bahan pertimbangan..
Disclaimer ON..
*tidak punya posisi di BWPT

PT BW PLANTATIONS - TP 1,630/sh
Sparkling Little Star
We reinitiate our coverage on PT BW Plantations Tbk (BWPT) with a buy recommendation and a 12-month target price of Rp1,630 based on DCF calculation. We like BWPT for its strong production growth, outstanding yield and spectacular margins among all other listed plantation companies.
The Rising Star. CPO has been the “rising star” commodities, offering the highest consumption and production growth of any edible oil in the world. The success factor behind it is superior yield. Palm oil offers the highest oil-per-hectare-yield of any other edible oil in the world which makes palm oil a very efficient raw-material for processing food.
Developing countries as center of demand. Developing countries like India, China and Indonesia will be the center of edible oil demand. Population and rising income per capita is the key driver of the edible oil demand in developing countries.
Price catalyst. We expect CPO prices to remain firmed above US$ 1,050/ton in the following years and maintain a “Neutral” rating for plantation sector. Our assumption are based on following factors: 1) Tight stock usage ratio as an indication of robust demand, 2) Widening discount to soybean-oil, and 3) Normalize production.
Remarkable production growth. BWPT has been the champion in Indonesia’s plantation sector with its outstanding production growth among any listed plantation companies. The key factors behind the robust production growth is aggressive new planting and improvement in FFB yield as management implied best estates practices
Favorable estate structure. Going forward we expect BWPT continue to record strong production growth. Our expectation is derived from several factors such as 1.) Inverse estate structure 2.) Higher portion of land bank.
Juvenile player which offers the highest yield. BWPT by far, is the youngest plantation company in the industry with an average age of 8.5 years as of December 2011. Despite being the youngest plantation company, BWPT offers the highest yield among its peers. The success factor behind the outstanding yield, which according to us is driven by several factors such as 1.) Least plasma estates portion, 2.) Utilization of management’s best practice. 
Lucrative acquisition. BWPT is on the edge of finalizing a deal to acquire 11,000 ha estate. Using Accretion/Dilution Analysis, we reckon that the acquisition is accretive for BWPT as the proposed acquisition deal creates shareholder value.
Valuation. We initiate coverage on BW Plantations (BWPT) with a BUY recommendation and a target price of IDR 1,630/shares based on Discounted Cash Flow Method (DCF).
Our target price suggest a 12.4% upside potential from the current price of IDR 1,450/ shares.
sumber: riset ciptadana sekuritas 8 feb 2012

Riset Bank Bukopin Mandiri Sekuritas

Selamat pagi..
Berikut saya cuplikan riset bank bukopin yang dikeluarkan oleh Mandiri sekuritas. Semoga Bermanfaat.
Bukan ajakan untuk membeli atau menjual, sekedar informasi saja.
Disclaimer On

Kemitraan yang strategis

Kunci berinvestasi

  • Pengalaman dan keahlian yang handal. Peseroan telah lebih lebih dari 40 tahun bergerak di segmen UKM dan Koperasi, yaitu sejak tahun 1970. Fokus bisnis di sektor ini dikembangkan dengan melakukan kerjasama strategis dengan berbagai institusi, baik institusi Pemerintah maupun Koperasi dan jaringannya, sehingga telah memberikan nilai yang strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan Perseroan. Hubungan yang baik terus dibina oleh Perseroan sehingga Perseroan dapat masuk ke dalam value chain guna melayani bisnis dari hulu sampai ke hilir. Total Aset, DPK dan Kredit Perseroan Per9M11 mencapai masing-masing Rp51.8triliun, Rp43.5triliun dan Rp35.9triliun.
  • Dukungan yang kuat dari pemegang saham. Kepemilikan Pemerintah dan Kopelindo (Koperasi Pegawai Bulog Seluruh Indonesia) pada saham Perseroan dapat diartikan bahwa Pemerintah mempunyai kepentingan kepada Perseroan sebagai penyedia fasilitas kredit kepada BULOG dan program Pemerintah lainnya. Apabila Perseroan mengalami kesulitan keuangan, maka kredit kepada BULOG dan program Pemerintah akan terganggu. Untuk itu, sedianya Pemerintah akan membantu Perseroan demi lancarnya program Pemerintah.
  • Memenuhi kriteria bank yang baik. Ketentuan pemenuhan modal minimum (CAR), tingkat kredit yang bermasalah (NPL), serta fungsi intermediasi yang dilihat dari LDR, menunjukkan bahwa Perseroan mampu menjaga untuk dapat memenuhi ketentuan Bank Indonesia. Per9M11, CAR, NPL dan LDR Perseroan adalah masing-masing sebesar 13.5%, 3.38% dan 82.6% dari ketentuan BI yang sebesar 8%, 5% dan 78-100% untuk CAR, NPL dan LDR.
  • Likuiditas yang baik.  Pertumbuhan DPK juga terus meningkat di atas industri (36.4%yoy vs. 18.7%yoy), hal ini menunjang pendanaan sehingga dapat menjaga likuiditas pada tingkat yang memadai. Selain itu, LDR meningkat pesat dari 65.4% di 2007 menjadi 82.6% per9M11. Hal ini membuktikan bahwa Perseroan berada dalam batas aman tingkat LDR  yang diwajibkan oleh BI yaitu 78-100%.

Risiko yang dihadapi

  • Kualitas kredit yang perlu diwaspadai.  Meskipun tingkat NPL Perseroan memenuhi ketentuan BI yaitu di bawah 5%, namun NPL Perseroan berada di tingkat 3.38% yang berarti di atas rata-rata industri yang sebesar 2.67%. Hal ini berarti kualitas kredit yang disalurkan oleh Perseroan tidak lebih baik dari Industri. Untuk mengatasi hal tersebut, Perseroan membangun control and risk management melalui sistem manajemen risiko yang solid. Hal tersebut berupa kebijakan untuk menetapkan prosedur dan kriteria yang jelas untuk analisis kredit dan persetujuan, menggunakan sistem data kredit terpusat yang berbasis web guna memudahkan persetujuan kredit dengan memberikan sensitivitas harga dan analisis risiko kredit pada pelanggan tertentu, jaminan 125% biasanya diperlukan untuk pinjaman, kecuali untuk perusahaan milik negara, dan yang terakhir adalah setiap pinjaman lebih besar dari Rp2.5miliar harus disetujui di kantor pusat. 
  • Persaingan di sektor UKM terus meningkat. Tingkat persaingan kredit di sektor UKM dan konsumer saat ini semakin meningkat di pasar, dikhawatirkan hal ini dapat menurunkan pangsa pasar Perseroan di segmen ini. Namun, pengalaman Perseroan yang lama di segmen ini serta layanan yang semakin baik diyakini dapat mengurangi risiko penurunan pangsa pasar secara berarti di masa datang. Dalam mengatisipasi kondisi tersebut di atas, Perseroan telah menyusun dan melaksanakan strategi berupa pendekatan kerjasama dengan strategic partnership dan masuk ke dalam value chain strategic partner tersebut. Sehingga, saat ini bisnis Perseroan tidak terbatas kepada pengadaan beras BULOG saja, melainkan juga melayani mitra bisnisnya dari hulu sampai ke hilir. 
Sumber : Debt Research Bank Bukopin Mandiri Sekuritas 8 Februari 2012 

Tuesday, February 7, 2012

Riset Makroekonomi Mandiri Sekuritas

Berikut kutipan dari riset makroekonomi oleh Mandiri Sekuritas, siapa tahu bermanfaat. Perhatikan bahwa faktor konsumsi domestik masih akan tumbuh di 2012, sehingga saham saham yang sebagian besar pasarnya di Indonesia kemungkinan akan mengalami pertumbuhan yang lumayan di 2012.
The economy grew the fastest in 15 years despite global turmoil
Highlights 
Indonesia GDP grew 6.5% yoy in 4Q11, slightly higher than our and consensus estimate of 6.47% and 6.45%, respectively. As we expected, the engine of growth came from domestic demand while net exports declined. Interestingly, investment growth was higher than expected, reaching 11.5% yoy in 4Q11 which is the highest since 3Q08. Meanwhile, private consumption remained solid, growing 4.9% yoy in the corresponding period. On sector basis, non-tradable sector continued to dominate growth, yet the trend was relatively flat while manufacturing sector continued to increase its contribution.

Full-year growth in 2011 reached 6.5%, the highest since 1996. Based on the share of region, Java still dominated Indonesia’s economic growth by 57.6% of total, followed by Sumatera and Kalimantan at 23.5% and 9.6%, respectively. On the other hand, per-capita GDP continued to improve to US$3,543 in 2011, 13.8% higher than 2010 supported by falling unemployment rate to 6.6% in 2011 (the lowest since 2000).

Going forward, we expect, however, domestic economy to slow slightly to 6.2% from 6.5% in 2011 due to global economic slowdown. Despite this slight decrease yet we perceive the number as relatively strong, notably compared to other countries’ growth.  Furthermore, the impact of the global economic slowdown, we believe, will be limited as it could be compensated by the domestic demand, lower cost of funds after the recent ratings upgrades to investment-grade levels that will ramp up investment spending, and the prospect of the de-bottlenecking in infrastructure given the new land acquisition law.
Sumber: Riset Mandiri Sekuritas 7 Februari 2012